Cerpen Jambi Monas Junior : Karena Kau.. Si “Oshin” Bangko

Cerpen Jambi Monas Junior : Karena Kau.. Si “Oshin” Bangko

Kita sedang duduk kelelahan di teras rumah. Sambil menyeruput teh hangat, kutatap matamu yang sipit dan senyum yang tak lapuk dimakan waktu itu. Teh  ini makin manis dibuat senyummu.

“Apa kau masih ingat, di pameran itu, waktu kita pertama bertemu?”

Senyummu makin lebar. Sekarang ditambah tawa pelan yang bijaksana. Mata sipit itu, makin menyempit.

“Masih.”

Katamu.

“Bagian mana yang paling kau ingat?”

“Rambut runcing-runcing berdiri, pakaian lusuh dan seorang pemuda yang percaya dirinya di atas rata-rata.”

Sekarang kau tertawa. Bola matamu hampir hilang tertutup kelopak sipit itu.

***

Kota Jambi 1993

Siang di pameran pembangunan, aku sedang berjalan tanpa arah. Mengitari stand demi stand, akhirnya kuputuskan beristirahat sejenak di stand kampung halamanku, Pemda Sarko.

 Sambil membaca brosur-brosur yang ada, aku duduk memperhatikan semua isi stand yang dipamerkan. Tak ada yang istimewa. Hampir semua yang ada di sini biasa saja. Tetapi semua berubah jadi luar biasa ketika kau datang.

 Ya, gadis bertubuh ramping dibalut kemeja panjang rok kasual, rambut lurus berkilau, kulit putih bak salju,  mata sipit dan wajah tirus, kini berdiri di depan sambil menatapku.

 Kau tahu, waktu itu, detak jantungku tak bisa kukendalikan. Berantakan!

 Cukup lama kuperhatikan kau sampai akhirnya sapaanmu menyadarkanku. Ah, kau begitu ramah dan familiar. Di mana kira-kira kutemui kau? Di masa lalu, dalam mimpi, atau di balik awan saat kau turun dari khayangan?

 Entahlah. Hari ini aku benar-benar terpenjara olehmu. Tak bisa apa-apa selain memikirkanmu.

 “Berapa keripik ini?”

 “Bawa saja. Gratis.”

Kau memang memberiku sebungkus keripik pisang produksi Bangko, tapi yang kulihat kau memberiku kebaikan yang tulus. Kebaikan orang asing kepada orang asing lain tanpa pamrih. Ah kau, selain kecantikanmu berseri, kebaikanmu juga bersinar.

Pulang ke kostan, aku berharap hari benar-benar cepat berakhir. Supaya pagi kembali lagi dengan cepat. Dan aku bisa menemuimu di stand itu, tempat kenangan melekat dan tak mau pergi.

Pagi kembali. Wajah dan kebaikanmu yang bersinar menyambutku di stand itu. Saat inilah aku mengetahui bahwa kau adalah ajudan istri bupati. Seorang gadis yang benar-benar anggun. Hatiku bermekaran meski tak tahu kapan cinta itu tumbuh.

 Tapi kau, biasa saja.

 “Boleh minta nomor telepon?”

 Kau memberiku nomor telepon rumah dinas bupati. Ini sudah lebih dari cukup buatku.

 Pameran itu berakhir, tapi keinginan untuk terus berjumpa denganmu tak pernah berakhir.

 Kusempatkan waktu untuk terus meneleponmu. Sesekali kudatangi kau di rumah dinas itu, 8 jam perjalanan dari Kota Jambi.

 Kau menyambutku dengan gugup. Sedikit malu dengan kru rumah dinas yang lain, kau tetap melayani aku yang sedang dikendalikan cinta ini.

 Selama itu, aku tahu kau belum mencintaiku. Tapi aku juga tahu bahwa kau akan membaca hatiku yang sedang bermekaran dengan wangi khas bunga asmara, lalu membiarkan hatimu jatuh cinta kepadaku.

 Dan masa penantian itu tiba. Aku melamarmu, kau menerima dengan segala kekuranganku. Entah kenapa?

***

“Memang kenapa kau mau menerima untuk hidup bersamaku?”

Di teras ini, senja mulai menua. Teh sudah dingin sedingin angin menjelang malam.

“Kau gigih. Percaya diri. Pantang menyerah. Aku melihat masa depan di dirimu.”

“Jadi bukan karena kau mencintaiku?”

Lagi-lagi senyum Si Mata Sipit itu: manis dan sangat khas.

“Itu yang utama.”

Kau menggeser kursi lebih dekat denganku.

“Kalau tak cinta, buat apa aku mau dipinang olehmu lalu pindah ke rumah kontrakan yang jauh dibanding rumah dinas bupati. Kalau tak cinta, buat apa aku mendampingimu di saat kau tertawa atau menangis. Kalau tak cinta, buat apa kuserahkan hidupku untukmu. Kalau tak cinta…”

Kugenggam tanganmu, kau terdiam. Hati kita berbicara satu sama lain, saling mengerti sampai tak perlu bersuara.

“Lalu, kapan dan apa yang membuatmu mencintaiku?”

Kau bertanya. Kubiarkan kepalamu bersandar di bahu kiriku. Sementara anak-anak kita sudah berjalan di rute kehidupan masing-masing, tinggal kita di sini dengan cinta yang tak pernah usang.

***

Bangko 1989

 Tinggal di rumah kerabat membuatku harus selalu bangun pagi. Simpang Harapan Bangko, selalu ramai di pagi hari. Anak-anak yang semangat ke sekolah, biasa jalan berduyun-duyun menuju ke jalan utama.

 Jarak dari rumah ke SMA DB tempat aku menimba ilmu, bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Tak berapa jauh. Tapi jarak dari kontrakanku ke SMA PGRI B1 cukup jauh, harus naik mobil.

 Yah, itulah sekolahmu.

 Kita bertetangga, cukup dekat. Kita saling menyapa mata, cukup sering. Tapi kita tak saling kenal waktu itu, hanya hatiku dan ingatanku mencatatmu sebagai sosok yang istimewa.

 Setiap bertemu di Pasar Bawah, orang-orang memanggilmu “Gadis Cina”. Karena kau begitu bersinar dengan kulit putih berkilaumu itu!

 Sedang aku, saat pertama melihatmu hingga saat hatiku sangat mengenalimu, mengingatkanku tentang Shin Tanokura alias Oshin. Sebuah serial Jepang yang diputar TVRI.

 Orang-orang semasaku sangat terkesan dengan Oshin. Sosok perempuan Jepang dengan perjuangan hidup luar biasa di masa pemerintahan Meiji. Oshin kecil, remaja, dewasa hingga kisahnya diakhiri bahagia, sangat melekat di dirimu.

 Wajahmu begitu mirip. Mungil, sipit, kulit putih, rambut tergerai indah, lincah dan penuh semangat hidup.

 Kau pantang menyerah. Tak pernah lelah dengan keadaan sesulit apapun.

 Kau, Si Oshin Bangko, cinta pertamaku di masa SMA.

 Baik saat bertemu denganmu saat kau berangkat sekolah, pulang sekolah, atau tak sengaja di pasar, hatiku selalu mencatat itu dengan tinta abadi.

 Memang, kita tak saling kenal, tak saling bicara, tapi aku… sudah sungguh-sungguh merinduimu saat itu, jauh sebelum kita bertemu lagi di pameran itu.

 Bayang-bayang Oshin Bangko selalu melekat di benakku.

 Dan tahukah kau, ketika bertemu denganmu lagi, semua catatan yang disimpan hatiku tiba-tiba keluar dengan begitu lancarnya.

 Sehingga aku, jadi jauh lebih mudah mencintaimu karena kaji yang berulang.

***

“Ya, aku mencintaimu karena kau… Si Oshin Bangko, itu,” bisikku.

Kau merapatkan tubuh lebih erat lagi. Ada hangat senyum menyelip di balik kepalamu yang bersandar di bahuku.

“Terima kasih sudah bertahan untukku. Terima kasih sudah mengantarku sampai di sini. Di senja yang mulai tua ini.”

Kau mengangguk pelan.

Teh itu sudah lama dingin. Tapi hati kita makin hangat bersama kenangan tentang cinta yang tak berhingga.(***)

Sumber: Jambiseru.com

Pos terkait